Jamride, Startup Lokal PPU yang Siap Ekspansi Nasional dengan Konsep Berbasis Komunitas

PPU –  Siapa sangka, di tengah geliat pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), sebuah layanan transportasi dan logistik lokal lahir dan tumbuh sejak 10 April 2019 lalu di wilayah yang dahulu tak banyak dikenal di peta digital ekonomi. Namanya Jamride, Penajam Ride, startup yang digawangi oleh Bondan Yulianto, putra daerah yang nekat membangun sistem berbasis aplikasi di tengah keterbatasan infrastruktur Penajam Paser Utara (PPU).

Bondan tahu, yang ia bangun bukan sekadar aplikasi antar-jemput. Tapi semacam perjuangan untuk mempertahankan identitas ekonomi lokal, sekaligus menantang dominasi brand-brand besar yang mulai menanamkan kuku di kota kecil yang sedang tumbuh cepat.

“Tantangan terunik adalah mengedukasi pelanggan dan mitra untuk memilih produk lokal, termasuk brand lokal,” kata Bondan saat diwawancarai, baru-baru ini.

“Karena kalau kita tidak punya ekosistem sendiri, UMKM kita akan kalah sebelum bertanding.”

Ingin Besar Tapi Tetap Lokal
Meski berakar dari Penajam, visi Jamride jauh dari sempit. Mereka kini mencoba ekspansi ke Kota Pagar Alam di Sumatera Selatan, dengan tetap mempertahankan nilai-nilai lokalitas yang jadi fondasi bisnis sejak awal berdiri enam tahun lalu.

Baca Juga:   PPU Mulai Persiapan Lomba Desa dan TTG 2026, Camat Diminta Selektif

“Kami optimis bisa hadir di luar PPU, karena sistemnya sudah kami uji cukup lama,” ujarnya.

“Tapi tetap, Jamride harus jadi layanan lokal di manapun kami hadir.”

Bagi Bondan, kesuksesan bukan soal menjangkau sebanyak mungkin kota, tapi menjaga kepercayaan di tiap komunitas tempat Jamride beroperasi. Itulah sebabnya mereka membatasi perekrutan mitra driver, berbeda dari pendekatan kompetitor yang membuka pendaftaran seluas-luasnya.

“Driver kami lebih sedikit, tapi penghasilannya lebih baik karena sesuai dengan jumlah order yang ada,” jelasnya.

“Dan kami tidak potong komisi, driver dapat 100% ongkir. Itu prinsip dasar kami.”

Menuju Smart City, Modal Minim Bukan Alasan Mandek
Sebagai startup berbasis teknologi di daerah yang menjadi wilayah penyangga IKN, Bondan tentu tak menutup mata soal potensi integrasi layanan dengan sistem Smart City. Tapi ia juga realistis.

“Kami tunggu kolaborasi dengan pihak-pihak yang juga punya visi ke sana,” ungkapnya.

“Kalau rencana pasti ada. Kami terus mengikuti perkembangan teknologi di PPU.”

Soal keberlanjutan, ia bahkan sudah punya mimpi jangka panjang: menggunakan motor listrik dan drone untuk mendukung logistik ramah lingkungan. Namun, semua itu kembali pada satu kata kunci: modal.

Baca Juga:   Catatan Oleh Makmur Marbun : Kita Bisa dan Harus Bisa, PPU Menyala

“Kami ingin ke arah sana. Tapi layanan kami saat ini masih optimal di dua kecamatan, Penajam dan Waru,” katanya.

Jamfood: Platform, Literasi, dan UMKM
Lewat salah satu sublayanan Jamride, yaitu Jamfood, pihaknya mencoba mendorong digitalisasi UMKM, terutama pelaku kuliner, agar punya akses pasar yang lebih luas dan efisien.

Ini bukan cuma soal jualan online, tapi bagian dari misi besar membangun ekosistem digital berbasis lokal. Di tengah gempuran platform nasional dan franchise besar, Jamride ingin jadi wajah lokal yang tak lekas punah.

“Bukan berarti kami anti brand besar. Tapi jangan sampai brand lokal tenggelam di kampungnya sendiri,” tutup Bondan.

Pewarta: Robbi Lalat

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.