Masjid Agung Kukar Jadi Sentra Layanan Publik, Pemkab Wujudkan Masjid Sebagai Pusat Kesejahteraan Warga

TENGGARONG – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Pemkab Kukar) menghadirkan inovasi pelayanan publik dengan pendekatan berbasis komunitas. Tidak hanya sebagai tempat ibadah, Masjid Agung Sultan Aji Muhammad Sulaiman kini dikembangkan menjadi pusat layanan sosial dan ekonomi bagi masyarakat.

Transformasi fungsi masjid tersebut dimulai dengan peluncuran dua program strategis, yakni Kios Pengendalian Inflasi Idaman dan Pos Pemeriksaan Kesehatan Gratis, yang telah aktif beroperasi di area pelataran masjid. Langkah ini dinilai sebagai bentuk konkret dari konsep masjid makmur yang tak hanya menghadirkan nilai spiritual, tetapi juga memberdayakan kehidupan sosial masyarakat.

Bupati Kukar, Edi Damansyah, menjelaskan bahwa pendekatan ini adalah bagian dari visi besar Pemkab dalam mendekatkan pelayanan secara langsung, humanis, dan berkelanjutan ke tengah masyarakat.

“Kita ingin membangun masjid bukan hanya sebagai pusat ibadah, tetapi juga sebagai simpul pelayanan publik. Masjid harus menjadi tempat masyarakat merasakan kehadiran negara secara nyata,” tegas Edi, Minggu (21/4/2025).

Kios Pengendalian Inflasi Idaman, yang dikelola Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), menyediakan bahan pangan pokok dengan harga terjangkau khusus bagi masyarakat pra sejahtera. Kios ini beroperasi setiap Jumat dan Minggu, bertepatan dengan kegiatan Car Free Day (CFD) yang digelar rutin di sekitar masjid.

Baca Juga:   Kelurahan Loa Ipuh Genjot Program One Zero Waste Lewat Penguatan Bank Sampah RT

Tak jauh dari kios, masyarakat juga dapat mengakses Pos Pemeriksaan Kesehatan Gratis, yang menyediakan layanan pemeriksaan tekanan darah, gula darah, hingga konsultasi medis ringan secara cuma-cuma. Inisiatif ini menjadikan masjid sebagai titik akses layanan kesehatan preventif yang mudah dijangkau.

“Sambil jalan pagi atau rekreasi di CFD, warga bisa cek kesehatannya langsung di pelataran masjid. Inilah wajah pelayanan yang menyatu dengan ruang sosial warga,” tambah Edi.

Edi berharap konsep ini dapat direplikasi di masjid-masjid lainnya di seluruh kecamatan Kukar. Baginya, masjid adalah simpul sosial yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat, sehingga sangat tepat dijadikan titik sentral pelayanan publik lintas sektor.

“Transformasi pelayanan bukan hanya soal bangunan megah atau aplikasi digital. Tetapi soal keberanian kita hadir di titik paling akrab dalam kehidupan warga. Dan itu adalah masjid,” tutupnya. (Adv)

Editor: Robbi

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.